Minggu, 26 April 2015

Filosofi Rumput

Jadilah manusia seperti rumput. Meski selalu diinjak-injak, namun tetap tumbuh.

Jadilah manusia seperti rumput, meski terkadang kehadirannya dianggap sebagai pengganggu, ia tidak malu, masih tetap saja ada.

Jadilah manusia seperti rumput, saat ia berada diposisi gulma, ia siap untuk dicabut, demi melihat tumbuhan disekitarnya tumbuh subur.

Jadilah manusia seperti rumput. Saat ia menunjukkan kebermanfaatannya, ia bukanlah dikenal sebagai namanya. Jadilah ia padi. Yang semakin tinggi akan semakin merunduk.

Jadilah manusia seperti rumput. Meski terkena panas dan tetesan hujan, ia tetap menghijau, ia tak mudah melayu hanya karena terpaan angin maupun badai yang berlalu.

Jadilah manusia seperti rumput. Yang siap menampung tetesan air, dan menjadikannya embun di pagi hari. Menjadikan udara disekitarnya sejuk.

Jadilah manusia seperti rumput. Meski terlihat rapuh, namun memiliki akar yang kokoh yang menembus sampai ke bumi.

Jadilah manusia seperti rumput, meski kecil dan kehadirannya terkadang mengganggu, namun tanpanya alam merasa ada yang kurang. Tanpanya, alam pun merasa kesepian dan terkesan kering kerontang.

Jadilah manusia seperti rumput:)

Kamis, 23 April 2015

Mencintaimu dengan sederhana

Kalimat singkat. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Pertanyaannya bagaimanakah?

Menurut para remaja, cinta itu rumit,  setiap prosesnya butuh waktu lebih bermenit-menit. Menurut para pujangga, cinta itu anugerah, karena bisa merubah yang tercela menjadi lebih indah. Namun, tak ayal juga bahwa cinta itu mengikhlaskan. Melihat yang bahagia menjadi bahagia, melihat yang sedih menjadi terluka.

Tapi, bagaimana caranya mencintai dengan sederhana? Cukup menikmati prosesnya. Mendalami maknanya. Mengevaluasi kesalahannya. Dan menghargai setiap momen yang ada, karena waktu tak pernah kembali.

Untuk saat ini, mencintai dengan sederhana bisa dimulai dari mencintai diri sendiri, menjaga yang hakiki, menikmati sepi dan merasakan indahnya mencintai dalam hati.

Lalu, mulai lah belajar mengikhlaskan, belajarlah melepaskan. Karena sejatinya cinta sejati itu semakin mudah kau melepaskannya, maka jika ia jodohmu maka ia akan kembali.

Tapi dari semua kata2 dan kasta dalam cinta. Ada satu yang harus kau jaga dalam lisan maupun kata, yakni cinta sejati kepadaNya. Dia yang menciptakan arti cinta yang ada. Selalu memberi tak berharap kembali.

Cintailah yang menciptakan jenis cinta. Cintailah yang menciptakan pelaku cinta. Cintailah Allah Sang Maha Cinta. Maka insyaallah cinta yang sejati akan hadir melalui proses yang lebih indah daripada cinta terindah yang hanya berlandaskan rasa ada.

Rabu, 22 April 2015

Menghargai Proses

Orang sukses adalah orang yang bisa menghargai waktu. Bisa menghargai proses dan bisa menghargai setiap tugas atau masalah yang dibebankan.

Menghargai disini bisa dalam artian, menjalankan semua tugasnya, tidak mengeluh, memanfaatkan waktu seoptimal mungkin. Yang terpenting adalah menjalankan proses sebaik mungkin, menyelesaikan secepat mungkin, mengoptimalkan hasilnya sebaik mungkin.

Jika dalam menjalankan kewajiban kita sudah melaksanakan semuanya dengan baik, maka insyaallah hasil nya juga akan mengikuti:)

Banyak yang berkata bahwa, jika kita ingin sukses maka mulainya untuk beranjak keluar dari zona nyaman. Kau bisa mendapatkan nilai yang bagus meski berada dalam zona tersebut, tapi kau tidak akan mendapat aspek pembelajaran yang baik dalam menjalankan prosesnya.

Hidup ini dijalani untuk berbagi bukan? Jika kau tetap berada di zona nyaman, bagaimana caranya agar kau bisa membagi apa yang kau punya dan mendapatkan apa yang tidak kau miliki? Maka, K E L U A R L A H dari zona tersebut.

Belajarlah untuk tetap bekerja dengan tenang meski dibawah tekanan, belajarlah untuk menghargai setiap tantangan tanpa banyak mengeluh.

Semua berawal dari kerjakan apa yang kau dapatkan, maksimalkan, dan nikmatilah hasilnya:)

Selasa, 21 April 2015

Jalan Berbeda

Ternyata memang benar. Aku dan kamu seperti tengah tersapu debu. Tertutup kabut untuk saling melihat bayangan masing-masing. Seperti tengah terhempas badai salju yang kecepatannya tak dapat terukur. Menyisakan kenangan yang semakin jauh.

Teman. Sekarang aku hanya bisa menatapmu dari jauh. Berharap kamu akan berbalik dan sekedar menyapaku. Bukan, bukan aku yang tidak mau menegurmu, aku hanya tidak ingin mengganggu aktivitasmu. Ya, kamu dengan dunia barumu.

Teman. Ingatkah dulu kenangan yang pernah kita lakukan bersama? Ingatkah kau tentang kita yang berusaha menentang hujan demi mengejar menit? Ingatkah kau tentang aku yang sering mengeluh padamu, teman, aku sendirian..

Dulu, kita sering berbagi cerita. Masalah tak penting pun kita bahas juga. Hanya sekedar pengisi waktu luang. Ya, itu memang cara kita menghabiskan waktu bersama. Hanya antara kau dan aku. Dan juga kenyamanan yang ada diantara kita.

Teman. Apakah jalan kita sekarang sudah berbeda? Apakah tak ada lagi penghubung kita dikala suka? Atau penjaga kita dikala duka? Tak adakah aku lagi dihidupmu?

Kita yang dulu tertawa tanpa henti. Kita yang dulu menangis dalam elegi. Kita yang dulu saling berbagi sepi. Terlalu banyak kita yang dulu, teman. Terlalu banyak kenangan ini.

Teman, dalam mimpi-mimpi senduku, dalam sepinya malamku, aku hanya bisa mengusap fotomu. Mengingat semua momen kita yang telah berlalu. Sesakit inikah rasanya menjadi dua orang yang berbeda? Berada dalam satu ruang yang sama, namun enggan tuk menyapa. Merasa telah berbeda. Hanya kegelisahan kapan perpisahan akan datang, saling membuang nafas jengah, kenapa kita yang sekarang begitu sulit untuk bersua?

Teman. Bolehkah aku sekedar berharap saat ini? Kau akan berbalik dan merangkulku lagi? Kau benar, sekarang aku tidak lagi sendiri. Begitu pula denganmu, bukan? Tapi bolehkah aku bersikap egois? Bolehkah aku meminta sedikit waktumu untuk menemaniku lagi?
Teman, aku rindu padamu. Rindu, teramat rindu.

Seseorang yang hanya mengamatimu dari jauh, yang menanggung rindu. Ia hanya ingin berkata, kembalilah, sahabatku.

Senin, 20 April 2015

Cerita baru dalam suasana baru. Mulai merajut kisah yang berawal sendu. Tapi janji untuk menghapus kelabu berusaha menghentikan rinai hujan yang mulai berjatuhan. Ini cerita tentang dimana aku memulai semua mimpi. Ini cerita tentang dimana sebuah perjalanan panjang. Ada suka maupun duka. Tapi aku tidak akan beranjak pergi. Maka, temani aku untuk memulai kisah yang tak kan berakhir ini, bersamaku? Mari kita lakukan:)

 Ost Gita Gutawa (Tak Perlu Keliling Dunia)

Kapur putih yang pucatTerasa penuh warnaDan pelangi yang enggan datang pun berbinar
Kertas putih yang pudarTertulis seribu kataDan ku ungkap semua yang sedang ku rasaDengarkanlah kata hatikuBahwa ku ingin untuk tetap disini
Tak perlulah aku keliling duniaBiarkan ku disiniTak perlulah aku keliling duniaKarna ku tak mau jauhDarimu
Dunia boleh tertawaMelihatku bahagiaWalau ditempat yang kau anggap tak biasaBiarkanlah aku bernyanyiBerlari berputar menari disini
(Tak perlulah aku keliling dunia)
Tak perlulah aku keliling duniaKarna kau disiniTak perlulah aku keliling duniaKaulah segalanya bagiku
Di Duniaaa.. Aaa.. Aaa.. Aaa.. Aaa..