Senin, 20 Juli 2015

Kosong

Aku tidak tau penyakit hati apa yang ada dalam diri ini.
Aku sulit, sulit rasanya untuk memaafkan.
Aku tidak bisa bersikap lemah lembut dengan orang lain.
Entahlah, terkadang aku berpikir, aku orang yang sangat menyebalkan.
Aku hanya merasa kosong. Hati ini rasanya sudah penuh rasa luka.
Tercabik-cabik.
Hingga tidak tau lagi rasanya memaafkan..

Sudah terlampau perihkah sakit yang aku terima? Sudah terlampau tak termaafkankah perilaku yang aku rasakan.
Aku tidak pernah tau..
Sampai kapanpun aku tidak pernah mengerti perasaan ini.
Perasaan sakit, sedih, marah, emosi atau sesuatu yang membuatku tersakiti.

Yang aku tau, saat ini aku merasa sepi.
Kosong dan ntahlah.
Hanya aku yang mengerti.

Selasa, 14 Juli 2015

Terlalu Berbeda

Hai kamu..
Yang saat terbangun di pagi hari, lantas beranjak ke kamar mandi. Menuai aktivitas di pagi hari. Tanpa beban. Tanpa hambatan.

Hei kamu..
Yang saat berkata kamu lapar, maka sudah tersaji aneka hidangan di meja makan. Lantas kau tinggal menyisingkan lengan, dan mulai mencecap masakan.

Hei kamu..
Yang saat ingin berpergian, sudah ada kendaraan yang terparkir rapi di halaman. Yang kau lakukan hanya masuk. Duduk rapi memanggil pelayan. Yap, orang yang bersedia mengantarmu hingga tujuan.

Hei kamu..
Tidakkah kau berpikir? Hidup kita terlalu berbeda. Kau sibuk dengan aktivitas mewahmu sedangkan aku harus berpeluh bermandi keringat, bekerja keras untuk menyongsong hidup. Tanpa ada kemewahan, atau janji manis di masa depan.

Hei kamu..
Lantas masih pantaskah kau meremehkan segala hal yang aku punya? Di saat aku memperoleh semua dengan kerja keras yang ku lakukan, kau hanya sekedar menggedikkan bahu. Dan voila! Semua tersedia di depan mata.

Hidup terkadang tidak sesederhana yang kau pikirkan. Hidup terkadang tidak sedamai yang kau bayangkan. Cobalah untuk 'melihat' bahwa kita terlalu berbeda. Jangan samakan aku dengan kehidupanmu. Tolong hargailah jika kau masih belum bisa menghapus bebanku.

Hargailah dengan tidak meremehkan segala hal yang aku miliki.

Hargailah dengan selalu memberi motivasi.

Hargailah bahwa kehidupan tidak sebercanda itu.

Bukankah dulu kau yang paling 'tau' hidupku?

Minggu, 12 Juli 2015

Selamat tinggal masa lalu

Selamat tinggal masa lalu.

Pagi ini datang lagi. Bersamaan dengan terbitnya mentari di ufuk timur. Memancarkan sinar temaram. Pertanda kehidupan mulai berjalan.

Pagi ini sama seperti pagi yang lainnya. Aku sendiri. Masih dalam sepi. Namun bedanya, aku sudah lelah, menangis tanpa air mata.

Dulu aku selalu bahagia menyambut fajar. Karena ku tau, hari akan berganti. Harapan akan terukir lagi.

Dulu aku selalu bahagia merasakan embun pagi. Meski dingin dan menusuk tulang. Namun terasa sejuk di dalam hati.

Tapi sekarang telah berlalu, sepelemparan batu. Aku yang sekarang sudah terlalu lelah untuk terus tertawa. Aku yang sekarang sudah terlalu rapuh untuk menyembunyikan luka.
Aku yang sekarang, sudah tak mampu menahan rasa... rindu. Kepadamu.

Boleh kah kuucapkan kata selamat tinggal? Boleh kah akhirnya aku menyerah saja? Bukankah dulu kau bilang semua bukan tentang "kita". Ini hanya tentang aku dan mimpi semu ku.
Bukankah, dari awal kau sudah menyerah? Maaf, aku ulangi. Bukankah dari awal kau sudah tak ingin berjuang?

Tiba-tiba rasa dingin ini menyergapku. Seperti ada angin yang berhembus kuat di sekelilingku. Aku mulai takut. Tak ada lagi kah yang mampu memelukku? Sudah terlalu jauh kah jarak antara dua tangan ini? Hingga saling merengkuh saja sudah semakin sulit?

Selamat tinggal masa lalu.

Kalimat yang begitu mudah untuk ku ucapkan. Namun tak bisa juga aku wujudkan. Ini bukan tentang aku dan kau. Ini hanya tentang aku, yang tak mampu menepis bayangmu.

Tapi pagi ini, aku sudah mulai belajar. Mentari akan selalu terbit di ufuk timur. Begitu pula embun pagi yang menetes membawa perasaan sejuk. Sama seperti kehadiranmu yang tak bisa ku lupakan atau tepiskan. Kau akan selalu menjadi bagian masa laluku.

Hanya saja, pagi ini aku ingin mengucapkan selamat tinggal.
Biarkan aku jalani kembali kehidupan, tanpa ada bayang-bayangmu dalam setiap sudut jalan.

Kau benar, ini semua hanya tentang 'membunuh' mimpi semuku.

Kamis, 09 Juli 2015

Ada yang hilang

Tadi pagi gue ngerasa satu hal yang aneh waktu nge stalking adik angkatan. Ntah kenapa gue cemburu. Cemburu setiap ngelihat dia foto sama ceweknya. Gue bingung, perasaan apa yg timbul ini?

Apa gue suka? Apa gue sayang? Bahkan perasaan ini terbawa hingga gue terlelap. Gue terlalu terbawa hati dan suasana. Bahkan di mimpi gue, gue berharap dia melakukan hal yang sama ke gue, c'mon, cewek mana yg gak suka diperlakukan romantis sama cowoknya?

Tapi, di mimpi gue pun, gue tetep setia. Perasaan bersalah itu, perasaan terluka itu yang gue rasakan saat cowok yang tidak seharusnya merebut hati gue memperlakukan gue bagai putri.

Saat terbangun, gue termenung. Apa yang salah? Dan gue jelas telah menemukan alasannya. Ekspektasi gue yang salah.

Gue bukan, maksud gue tidak mencintai laki-laki lain (berkat hati gue yang terlalu setia), tapi yang gue inginkan adalah, gue ingin lelaki yang bersama ataupun yang akan menjadi bagian hidup gue bisa memperlakukan hal yang sama yang dilakukan dari semua laki-laki yang gue kagumi.

Meski dalam lisan gue berkata, gue gak butuh itu semua, gue gak butuh pemanis kata, gue gak butuh barang-barang apalah. Tapi tetep aja, kodrat gue sebagai cewek yang selalu ingin perlakuan istimewa dari orang yang istimewa. Gue ingin dijadikan pusat dan prioritas utama dalam kehidupan. Gue ingin lelaki yang mampu mengikat gue dalam janji pasti. Tanpa harapan semu. Gue ingin diyakinkan bahwa suatu saat gue bukan hanya bagian cerita dia, tapi gue partner penting dalam semua kegiatan yang dia lakukan. Bagi gue, lelaki manapun itu, yang bisa membuat gue nyaman dalam kesederhanaan adalah lelaki yang harus gue pertahankan.

Dan faktanya sampai saat ini gue belum menemukannya.

Hidup dalam status tidak pasti. Hati gue terombang-ambing. Gue sayang, gue cinta. Tapi hati gue selalu meminta lebih. Apakah ini masih bisa disebut cinta? Jika kau tidak bisa menerima segala kekurangan pasangan? Ntahlah, gue gak tau. Yang gue tau hati gue terlalu setia dan terlalu rapuh jika dipaksa menerima.

Tapi pagi ini gue sadar, gak semua hal bisa dipaksakan sesuai apa yang kita mau. Yang bisa kita lakukan adalah bersabar, berdoa dan berusaha. Lo ingin dia berubah menjadi apa yang lo mau? Maka lo harus berubah seperti yang dia mau. Meski awalnya pasti tidak nyaman melakukannya, tapi mungkin saja itu bisa mengembalikan rasa kepercayaan diri lo yang sempat hilang.

Hidup ini simpel. Jika hanya tertuang di dalam kertas dan terlahir sebagai teori.

Hidup ini sulit. Jika kita mulai membuka mata dan mulai merubah segalanya.

Ya, sesederhana itu. Meski gue belum memutuskan akan memilih yang mana.