Minggu, 12 Juli 2015

Selamat tinggal masa lalu

Selamat tinggal masa lalu.

Pagi ini datang lagi. Bersamaan dengan terbitnya mentari di ufuk timur. Memancarkan sinar temaram. Pertanda kehidupan mulai berjalan.

Pagi ini sama seperti pagi yang lainnya. Aku sendiri. Masih dalam sepi. Namun bedanya, aku sudah lelah, menangis tanpa air mata.

Dulu aku selalu bahagia menyambut fajar. Karena ku tau, hari akan berganti. Harapan akan terukir lagi.

Dulu aku selalu bahagia merasakan embun pagi. Meski dingin dan menusuk tulang. Namun terasa sejuk di dalam hati.

Tapi sekarang telah berlalu, sepelemparan batu. Aku yang sekarang sudah terlalu lelah untuk terus tertawa. Aku yang sekarang sudah terlalu rapuh untuk menyembunyikan luka.
Aku yang sekarang, sudah tak mampu menahan rasa... rindu. Kepadamu.

Boleh kah kuucapkan kata selamat tinggal? Boleh kah akhirnya aku menyerah saja? Bukankah dulu kau bilang semua bukan tentang "kita". Ini hanya tentang aku dan mimpi semu ku.
Bukankah, dari awal kau sudah menyerah? Maaf, aku ulangi. Bukankah dari awal kau sudah tak ingin berjuang?

Tiba-tiba rasa dingin ini menyergapku. Seperti ada angin yang berhembus kuat di sekelilingku. Aku mulai takut. Tak ada lagi kah yang mampu memelukku? Sudah terlalu jauh kah jarak antara dua tangan ini? Hingga saling merengkuh saja sudah semakin sulit?

Selamat tinggal masa lalu.

Kalimat yang begitu mudah untuk ku ucapkan. Namun tak bisa juga aku wujudkan. Ini bukan tentang aku dan kau. Ini hanya tentang aku, yang tak mampu menepis bayangmu.

Tapi pagi ini, aku sudah mulai belajar. Mentari akan selalu terbit di ufuk timur. Begitu pula embun pagi yang menetes membawa perasaan sejuk. Sama seperti kehadiranmu yang tak bisa ku lupakan atau tepiskan. Kau akan selalu menjadi bagian masa laluku.

Hanya saja, pagi ini aku ingin mengucapkan selamat tinggal.
Biarkan aku jalani kembali kehidupan, tanpa ada bayang-bayangmu dalam setiap sudut jalan.

Kau benar, ini semua hanya tentang 'membunuh' mimpi semuku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar