Selamat pagi, masa lalu.
Sudah 100 hari semenjak terakhir aku menanyakan kabarmu. Baik-baik saja kah? Apa kau sudah menemukan penggantiku?
Selamat pagi, masa lalu.
Ingin sekali ku ketik sebuah kalimat basa-basi demi bisa menghubungimu. Namun tak ku sangka semuanya tidak semudah itu, karena kenangan akan 'kita' terus muncul dalam setiap ingatanku.
Kau tau? Rasa rinduku padamu tak bisa disamakan dalam sekedar kalimat basa basi bertajuk "apa kabar".
Karena sejujurnya rasa yang ku miliki terlampau besar, hingga terkadang aku pun takut akan terjatuh lagi dalam hidupmu. Untuk kesekian kalinya.
Selamat pagi masa lalu, hari ini ku temukan sebuah surat tergeletak di meja ku. Bukan, bukan pengirimnya yang membuatku tersentak. Bukan pula asalnya yang membuatku meringis, namun ada satu kalimat yang membuatku termangu. Kau tau apa kalimat itu? Bukan kalimat cinta tentunya, hanya sebaris kalimat singkat, "Jangan lupa bahagia".
Kau tau apa alasanku yang tiba-tiba terdiam? Aku hanya mencoba berpikir dan merangkai penjelasan. Apa aku sudah bahagia selama ini? Apa menghilang dan ketidakpedulianmu masih bisa membuatku bahagia? Apa dulu ketika bersamamu aku sudah bahagia?
Bolehkah ku tanyakan hal ini padamu?
Kau tau,, setiap hari aku selalu berharap, kau akan mengirimi aku pesan, tidak panjang, hanya sekedar memberitau bagaimana keadaanmu. Apakah kau baik saja, apakah hidupmu lancar, apakah kau merindukanku. Ya ya ya, aku tau. Memang harapanku terlalu berlebihan. Hanya saja, ya mungkin perhatian dan kepedulianmu yang sedikit itu bisa memberikan rasa bahagia untukku.
Yap, sedikit lebih baik kan dibanding tidak sama sekali?
Selamat pagi, masa lalu.
Kau tau? Terkadang kita memiliki banyak perbedaan satu sama lain hingga membuat kita sering berdebat,, namun kau tau? Kita juga memiliki beberapa kesamaan yang ternyata dalam hal ini berkonotasi negatif. Kau tau apa itu?
Yap, menunggu.
Sama-sama saling menunggu, tanpa mengirim pesan, tanpa saling mencari, dan hanya diam. Saling menunggu kapan dihubungi. Lucu ya? Tapi memang begitulah kita sedari dulu. Kau tau kan?
Terkadang saling menunggu itu lah yang menciptakan jarak semu di antara kita, yang semakin lama akan membuat kita terperangkap dalam pergulatan batin masing-masing. Yang pada akhirnya, jauh, terpisah kemudian menghilang.
Lewat pesan tadi, aku hanya ingin meyampaikan padamu bahwa sudah cukup untuk kita saling menunggu. Aku ingin kau bahagia, begitu juga aku.
Mungkin, bukan jalan kita untuk bisa bersama, mungkin bukan kesempatan kita untuk bisa kembali. Namun aku ingin kau tau bahwa aku akan selalu mendoakanmu untuk bertemu separuh hidupmu nanti, ya seorang yang mampu membuatmu maju tanpa harus diam tak tentu.
Jadi, sebelum saat itu tiba, izinkan aku untuk bertanya sebuah pertanyaan singkat. Apa kabar, masa lalu? Hidupmu tanpa aku? Jika kau bertanya kembali, maka jawabanku selalu sama. Bahwa aku akan selalu menunggu ntah sampai kapan. Ntah dengan siapa dan ntah bagaimana.
Pesanku cuma satu, untukmu hinga nanti..
Jangan lupa bahagia ya:')
Rabu, 30 Desember 2015
Apa kabar, masa lalu?
Senin, 03 Agustus 2015
Kangen
Baru beberapa jam ku tapaki jalan meninggalkan rumah..
Jauh, jauh dari kenyamanan..
Jauh, jauh dari kehangatan..
Jauh, jauh dari keluarga..
Lalu, kudapati kini diriku tengah meringkuk di pojok kamar..
Menghitung hari demi hari, beserta bulan. Menunggu, kapan waktunya aku akan pulang?
Kembali dalam rengkuhan keluarga?
Aku sepi, sepi dalam keheningan..
Aku hening, hening dalam keramaian..
Aku bimbang, penuh dengan pengharapan..
Lantas, apa gunanya aku berpura-pura bahagia saat aku memilih kembali?
Bukankah banyak hati yang tersakiti?
Kenapa dulu aku memilih untuk menjauh?
Rindu, sungguh rasanya rindu..
Aku hanya bisa menunggu waktu, kapan lagi saatnya..
Meski saat itu tiba, aku selalu merasakan terbangun dikala lelap, dan terisak menangisi jauhnya jarak..
Rindu, ibu aku teramat rindu..
Doakan aku disini, doakan pengorbananku disini untuk menjadi bekalku nanti..
Aku rapuh ibu, aku ingin berada dalam rengkuhanmu..
Tunggu aku, 6 bulan bukan waktu yang lama bukan?
Untukmu.
Senin, 20 Juli 2015
Kosong
Aku tidak tau penyakit hati apa yang ada dalam diri ini.
Aku sulit, sulit rasanya untuk memaafkan.
Aku tidak bisa bersikap lemah lembut dengan orang lain.
Entahlah, terkadang aku berpikir, aku orang yang sangat menyebalkan.
Aku hanya merasa kosong. Hati ini rasanya sudah penuh rasa luka.
Tercabik-cabik.
Hingga tidak tau lagi rasanya memaafkan..
Sudah terlampau perihkah sakit yang aku terima? Sudah terlampau tak termaafkankah perilaku yang aku rasakan.
Aku tidak pernah tau..
Sampai kapanpun aku tidak pernah mengerti perasaan ini.
Perasaan sakit, sedih, marah, emosi atau sesuatu yang membuatku tersakiti.
Yang aku tau, saat ini aku merasa sepi.
Kosong dan ntahlah.
Hanya aku yang mengerti.
Selasa, 14 Juli 2015
Terlalu Berbeda
Hai kamu..
Yang saat terbangun di pagi hari, lantas beranjak ke kamar mandi. Menuai aktivitas di pagi hari. Tanpa beban. Tanpa hambatan.
Hei kamu..
Yang saat berkata kamu lapar, maka sudah tersaji aneka hidangan di meja makan. Lantas kau tinggal menyisingkan lengan, dan mulai mencecap masakan.
Hei kamu..
Yang saat ingin berpergian, sudah ada kendaraan yang terparkir rapi di halaman. Yang kau lakukan hanya masuk. Duduk rapi memanggil pelayan. Yap, orang yang bersedia mengantarmu hingga tujuan.
Hei kamu..
Tidakkah kau berpikir? Hidup kita terlalu berbeda. Kau sibuk dengan aktivitas mewahmu sedangkan aku harus berpeluh bermandi keringat, bekerja keras untuk menyongsong hidup. Tanpa ada kemewahan, atau janji manis di masa depan.
Hei kamu..
Lantas masih pantaskah kau meremehkan segala hal yang aku punya? Di saat aku memperoleh semua dengan kerja keras yang ku lakukan, kau hanya sekedar menggedikkan bahu. Dan voila! Semua tersedia di depan mata.
Hidup terkadang tidak sesederhana yang kau pikirkan. Hidup terkadang tidak sedamai yang kau bayangkan. Cobalah untuk 'melihat' bahwa kita terlalu berbeda. Jangan samakan aku dengan kehidupanmu. Tolong hargailah jika kau masih belum bisa menghapus bebanku.
Hargailah dengan tidak meremehkan segala hal yang aku miliki.
Hargailah dengan selalu memberi motivasi.
Hargailah bahwa kehidupan tidak sebercanda itu.
Bukankah dulu kau yang paling 'tau' hidupku?
Minggu, 12 Juli 2015
Selamat tinggal masa lalu
Selamat tinggal masa lalu.
Pagi ini datang lagi. Bersamaan dengan terbitnya mentari di ufuk timur. Memancarkan sinar temaram. Pertanda kehidupan mulai berjalan.
Pagi ini sama seperti pagi yang lainnya. Aku sendiri. Masih dalam sepi. Namun bedanya, aku sudah lelah, menangis tanpa air mata.
Dulu aku selalu bahagia menyambut fajar. Karena ku tau, hari akan berganti. Harapan akan terukir lagi.
Dulu aku selalu bahagia merasakan embun pagi. Meski dingin dan menusuk tulang. Namun terasa sejuk di dalam hati.
Tapi sekarang telah berlalu, sepelemparan batu. Aku yang sekarang sudah terlalu lelah untuk terus tertawa. Aku yang sekarang sudah terlalu rapuh untuk menyembunyikan luka.
Aku yang sekarang, sudah tak mampu menahan rasa... rindu. Kepadamu.
Boleh kah kuucapkan kata selamat tinggal? Boleh kah akhirnya aku menyerah saja? Bukankah dulu kau bilang semua bukan tentang "kita". Ini hanya tentang aku dan mimpi semu ku.
Bukankah, dari awal kau sudah menyerah? Maaf, aku ulangi. Bukankah dari awal kau sudah tak ingin berjuang?
Tiba-tiba rasa dingin ini menyergapku. Seperti ada angin yang berhembus kuat di sekelilingku. Aku mulai takut. Tak ada lagi kah yang mampu memelukku? Sudah terlalu jauh kah jarak antara dua tangan ini? Hingga saling merengkuh saja sudah semakin sulit?
Selamat tinggal masa lalu.
Kalimat yang begitu mudah untuk ku ucapkan. Namun tak bisa juga aku wujudkan. Ini bukan tentang aku dan kau. Ini hanya tentang aku, yang tak mampu menepis bayangmu.
Tapi pagi ini, aku sudah mulai belajar. Mentari akan selalu terbit di ufuk timur. Begitu pula embun pagi yang menetes membawa perasaan sejuk. Sama seperti kehadiranmu yang tak bisa ku lupakan atau tepiskan. Kau akan selalu menjadi bagian masa laluku.
Hanya saja, pagi ini aku ingin mengucapkan selamat tinggal.
Biarkan aku jalani kembali kehidupan, tanpa ada bayang-bayangmu dalam setiap sudut jalan.
Kau benar, ini semua hanya tentang 'membunuh' mimpi semuku.
Kamis, 09 Juli 2015
Ada yang hilang
Tadi pagi gue ngerasa satu hal yang aneh waktu nge stalking adik angkatan. Ntah kenapa gue cemburu. Cemburu setiap ngelihat dia foto sama ceweknya. Gue bingung, perasaan apa yg timbul ini?
Apa gue suka? Apa gue sayang? Bahkan perasaan ini terbawa hingga gue terlelap. Gue terlalu terbawa hati dan suasana. Bahkan di mimpi gue, gue berharap dia melakukan hal yang sama ke gue, c'mon, cewek mana yg gak suka diperlakukan romantis sama cowoknya?
Tapi, di mimpi gue pun, gue tetep setia. Perasaan bersalah itu, perasaan terluka itu yang gue rasakan saat cowok yang tidak seharusnya merebut hati gue memperlakukan gue bagai putri.
Saat terbangun, gue termenung. Apa yang salah? Dan gue jelas telah menemukan alasannya. Ekspektasi gue yang salah.
Gue bukan, maksud gue tidak mencintai laki-laki lain (berkat hati gue yang terlalu setia), tapi yang gue inginkan adalah, gue ingin lelaki yang bersama ataupun yang akan menjadi bagian hidup gue bisa memperlakukan hal yang sama yang dilakukan dari semua laki-laki yang gue kagumi.
Meski dalam lisan gue berkata, gue gak butuh itu semua, gue gak butuh pemanis kata, gue gak butuh barang-barang apalah. Tapi tetep aja, kodrat gue sebagai cewek yang selalu ingin perlakuan istimewa dari orang yang istimewa. Gue ingin dijadikan pusat dan prioritas utama dalam kehidupan. Gue ingin lelaki yang mampu mengikat gue dalam janji pasti. Tanpa harapan semu. Gue ingin diyakinkan bahwa suatu saat gue bukan hanya bagian cerita dia, tapi gue partner penting dalam semua kegiatan yang dia lakukan. Bagi gue, lelaki manapun itu, yang bisa membuat gue nyaman dalam kesederhanaan adalah lelaki yang harus gue pertahankan.
Dan faktanya sampai saat ini gue belum menemukannya.
Hidup dalam status tidak pasti. Hati gue terombang-ambing. Gue sayang, gue cinta. Tapi hati gue selalu meminta lebih. Apakah ini masih bisa disebut cinta? Jika kau tidak bisa menerima segala kekurangan pasangan? Ntahlah, gue gak tau. Yang gue tau hati gue terlalu setia dan terlalu rapuh jika dipaksa menerima.
Tapi pagi ini gue sadar, gak semua hal bisa dipaksakan sesuai apa yang kita mau. Yang bisa kita lakukan adalah bersabar, berdoa dan berusaha. Lo ingin dia berubah menjadi apa yang lo mau? Maka lo harus berubah seperti yang dia mau. Meski awalnya pasti tidak nyaman melakukannya, tapi mungkin saja itu bisa mengembalikan rasa kepercayaan diri lo yang sempat hilang.
Hidup ini simpel. Jika hanya tertuang di dalam kertas dan terlahir sebagai teori.
Hidup ini sulit. Jika kita mulai membuka mata dan mulai merubah segalanya.
Ya, sesederhana itu. Meski gue belum memutuskan akan memilih yang mana.
Rabu, 27 Mei 2015
Seberapa besar permintaanmu?
Hari ini gue dapet pelajaran lagi. Not, not a lesson about class. But, some question that make me think it to hard.
Hmm. Ceritanya tentang seberapa besar sebuah permintaan?
Sebenarnya ini pertanyaan simpel. Tapi gue dan orang-orang yang gak memahami maksud ini pasti bakal mikir, maksud loh?
Gini gue mau jabarin. Sebenarnya permintaan itu apa sih? Apa lo pernah mendapatkan suatu pertanyaan mengenai tolong?
Ya, lo bener. Permintaan artinya kita meminta untuk direspon, dibantu dan lain sebagainya. Sebenarnya wujud permintaan yang selama ini kita kenal lebih ke arah perintah. Dan orang-orang cenderung males nanggepin atau mengulurkan bantuan yang berwujud perintah.
Pernah gak sih lo berpikir, dosen ngasih lo tugas, asprak ngasih lo laporan atau orang tua lo ngasih lo dukungan buat kuliah itu karena mereka sedang melakukan transaksi permintaan?
Tapi yang kita pahami selama ini, bahwa mereka cenderung memerintah kita. Ini gak bisa dipungkiri sih. Menurut gue kesalahan persepsi ini karena bahasa verbal dalam penyampaian pesan yang mereka lakukan cenderung membuat kita berpikir bahwa kita sedang diperintah.
Jujur gue juga ngerasa gitu. Tapi semakin lama gue berpikir, gue mengerti bahwa mereka sedang meminta. Dosen memberi kita tugas karena mereka meminta kita untuk menyelesaikannya agar kelak dikemudian hari kita mampu menyelesaikan masalah yang ada. Asprak ngasih kita laporan karena mereka meminta kita untuk mempelajari apa yang sudah kita dapat dan memahami secara lebih baik agar ilmu yang kita dapat tidak menguap begitu saja. Begitu juga orang tua kita yang meminta kita agar sekolah dan menjadi orang sukses semata-mata karena mereka meminta agar di masa depan kita bisa lebih baik dari yang mereka harapkan.
So, gue cuma mau mengutarakan pendapat bahwa dibalik permintaan itu ada maksud yang baik, ada pesan yang ingin disampaikan, namun terkadang tidak semua respon yang diterima menunjukkan hal positif. Tidak semua orang yang dimintai pertolongan atau sesuatu bisa mengabulkannya.
Gue belajar itu hari ini. Satu semester gue melalui semua praktikum dengan baik. Alhamdulillah gue dapet kelompok yang klop banget. Dan gue seneng bisa jadi bagian dari mereka. Dan ini pertama kalinya gue meminta. Permintaan gue simpel. Gue pengen mengabadikan foto bareng. Mungkin buat lo lo yang gak ngerti maksud gue pasti bakal mikir, "buat apa sih? Plis banget deh, gue laper, nambahin kerjaan aja, buruan deh, bla bla bla".
It's oke. Lo boleh ngerespon apapun. Sama seperti yang udah gue uraikan sebelumnya. Dibalik sebuah permintaan pasti ada maksud yang baik.
Dan maksud gue kali ini adalah.
Gue mau nunjukkin ke anak gue suatu hari nanti, "nak, ini dulu foto waktu mama praktikum sama temen-temen dengan kelompok terbaik yang mama punya. Mama berharap suatu saat kamu juga bisa menemukan teman-teman yang bisa diajak kerja sama seperti mereka. Kelak suatu hari nanti wajah-wajah ini yang selalu mama ingat setiap ada kesulitan dalam melakukan pekerjaan atau merindukan kebersamaan dalam suatu tim. Karena mereka akan selalu jadi pelajaran berharga yang mama punya".
See? Ada yang salah dengan harapan gue? Dan hari ini, kejadian ini menjadi awal dan akhir dari kekecewaan yang gue alamin. Gue hanya meminta sekali dan gue tidak mendapat respon yang cukup baik.
Dan gue mulai berpikir bahwa, Allah nunjukin suatu pelajaran berharga. Kelompok atau tim yang gue kira baik ini ternyata bukan menjadi tim atau kelompok terbaik dalam hidup gue yang kelak bisa gue tunjukkin ke anak-anak gue nanti.
Masih berpuluh atau belasan tahun yang harus gue lewatin, dan gue selalu berharap kelak permintaan sederhana gue ada yang mengabulkan. Karena gue gak pernah meminta kepada siapa yang gue anggap tidak berharga dalam hidup gue.
Dan mungkin Allah benar, bukan sekarang waktunya.
Thanks:)
Lab kimfis, 27 Mei 2015.
Sabtu, 02 Mei 2015
Teman, butuh atau sekedar perlu?
Berawal dari kata nyesek.
Pernah gak sih lo ngerasa kalo lo dicari saat butuh doang? Pernah gak kalo lo itu berasa dihempaskan kalo lagi gak dibutuhin? Kalo gue sih, pernah.
Dan bego nya bagi gue adalah gue gak pernah nyesel untuk melakukannya.
Oh, ayolah. Disaat orang lain bersikap cuek dan gak mau ambil pusing, tapi gue masih aja peduli, berusaha mengambil alih tugas dan selalu bilang, "oke, biar gue yang kerjain, ada yang mau nitip?"
Entahlah, sekarang gue merasa kalimat itu adalah kalimat terbullshit yang pernah gue denger.
Gue gak mau munafik. Tapi gue emang seneng ngelakuinnya. Karna menurut gue, setiap orang itu butuh bantuan, kalo kita membantu orang, maka niscaya kita juga akan dibantu.
Tapi ntahlah, bentuk terealisasi dalam hidup gue mungkin cuma 10% dari apa yang udah gue lakuin.
Gue ikhlas lillahi ta'ala. Tapi kalo respon orang-orang ke gue cuma mencari saat butuh, maaf gue gak bisa. Gue capek, dan gue terlalu sakit hati buat ngelupain semuanya.
Banyak opsi yang ada di pikiran gue, salah satunya, "Apa mending gue left grup aja ya?, seenggaknya gue gak keliatan tolol untuk ngulangin kesalahan gue kesekian kalinya", T A P I, nyatanya gue gak bisa.
Gue capek disakitin, gue capek diabaikan, gue capek dianggap invisible doang. Tapi gue gak bisa lari, gue gak ingin pergi, karena gue tau, semua ini cuma emosi, dan suatu saat gue bakal menertawakan keinginan gue yang pernah ingin pergi tanpa 'permisi'.
Hidup terkadang terlalu absurd untuk dipikirkan. Banyak sekali hal-hal sepele yang kalo dipikir-pikir sebenarnya rumit untuk dijelaskan. Seperti, kenapa gue masih mau nolong, walau gue tau gue dianggap ada kalo dibutuhin doang? Kenapa gue gak bisa berhenti untuk berbuat baik?
Terkadang gue bingung sama diri gue sendiri, "gimana sih rasanya bisa secuek dan seapatis itu sama lingkungan? Kenapa gue gak bisa? Kenapa gue selalu peduli sama orang-orang yang salah?"
Mungkin ini saatnya gue berhenti. Bukan berhenti bersikap baik. Tapi berhenti mempertanyakan kenapa dunia seperti ini. Gue tau hidup itu kejam. Tapi hidup bakal lebih kejam seandainya orang-orang yang bernasib sama seperti gue mulai berhenti bersikap peduli.
Mungkin, inilah awal pembelajaran buat gue untuk "selalu" ikhlas dan berlapang dada.
Mungkin.
Minggu, 26 April 2015
Filosofi Rumput
Jadilah manusia seperti rumput. Meski selalu diinjak-injak, namun tetap tumbuh.
Jadilah manusia seperti rumput, meski terkadang kehadirannya dianggap sebagai pengganggu, ia tidak malu, masih tetap saja ada.
Jadilah manusia seperti rumput, saat ia berada diposisi gulma, ia siap untuk dicabut, demi melihat tumbuhan disekitarnya tumbuh subur.
Jadilah manusia seperti rumput. Saat ia menunjukkan kebermanfaatannya, ia bukanlah dikenal sebagai namanya. Jadilah ia padi. Yang semakin tinggi akan semakin merunduk.
Jadilah manusia seperti rumput. Meski terkena panas dan tetesan hujan, ia tetap menghijau, ia tak mudah melayu hanya karena terpaan angin maupun badai yang berlalu.
Jadilah manusia seperti rumput. Yang siap menampung tetesan air, dan menjadikannya embun di pagi hari. Menjadikan udara disekitarnya sejuk.
Jadilah manusia seperti rumput. Meski terlihat rapuh, namun memiliki akar yang kokoh yang menembus sampai ke bumi.
Jadilah manusia seperti rumput, meski kecil dan kehadirannya terkadang mengganggu, namun tanpanya alam merasa ada yang kurang. Tanpanya, alam pun merasa kesepian dan terkesan kering kerontang.
Jadilah manusia seperti rumput:)
Kamis, 23 April 2015
Mencintaimu dengan sederhana
Kalimat singkat. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Pertanyaannya bagaimanakah?
Menurut para remaja, cinta itu rumit, setiap prosesnya butuh waktu lebih bermenit-menit. Menurut para pujangga, cinta itu anugerah, karena bisa merubah yang tercela menjadi lebih indah. Namun, tak ayal juga bahwa cinta itu mengikhlaskan. Melihat yang bahagia menjadi bahagia, melihat yang sedih menjadi terluka.
Tapi, bagaimana caranya mencintai dengan sederhana? Cukup menikmati prosesnya. Mendalami maknanya. Mengevaluasi kesalahannya. Dan menghargai setiap momen yang ada, karena waktu tak pernah kembali.
Untuk saat ini, mencintai dengan sederhana bisa dimulai dari mencintai diri sendiri, menjaga yang hakiki, menikmati sepi dan merasakan indahnya mencintai dalam hati.
Lalu, mulai lah belajar mengikhlaskan, belajarlah melepaskan. Karena sejatinya cinta sejati itu semakin mudah kau melepaskannya, maka jika ia jodohmu maka ia akan kembali.
Tapi dari semua kata2 dan kasta dalam cinta. Ada satu yang harus kau jaga dalam lisan maupun kata, yakni cinta sejati kepadaNya. Dia yang menciptakan arti cinta yang ada. Selalu memberi tak berharap kembali.
Cintailah yang menciptakan jenis cinta. Cintailah yang menciptakan pelaku cinta. Cintailah Allah Sang Maha Cinta. Maka insyaallah cinta yang sejati akan hadir melalui proses yang lebih indah daripada cinta terindah yang hanya berlandaskan rasa ada.
Rabu, 22 April 2015
Menghargai Proses
Orang sukses adalah orang yang bisa menghargai waktu. Bisa menghargai proses dan bisa menghargai setiap tugas atau masalah yang dibebankan.
Menghargai disini bisa dalam artian, menjalankan semua tugasnya, tidak mengeluh, memanfaatkan waktu seoptimal mungkin. Yang terpenting adalah menjalankan proses sebaik mungkin, menyelesaikan secepat mungkin, mengoptimalkan hasilnya sebaik mungkin.
Jika dalam menjalankan kewajiban kita sudah melaksanakan semuanya dengan baik, maka insyaallah hasil nya juga akan mengikuti:)
Banyak yang berkata bahwa, jika kita ingin sukses maka mulainya untuk beranjak keluar dari zona nyaman. Kau bisa mendapatkan nilai yang bagus meski berada dalam zona tersebut, tapi kau tidak akan mendapat aspek pembelajaran yang baik dalam menjalankan prosesnya.
Hidup ini dijalani untuk berbagi bukan? Jika kau tetap berada di zona nyaman, bagaimana caranya agar kau bisa membagi apa yang kau punya dan mendapatkan apa yang tidak kau miliki? Maka, K E L U A R L A H dari zona tersebut.
Belajarlah untuk tetap bekerja dengan tenang meski dibawah tekanan, belajarlah untuk menghargai setiap tantangan tanpa banyak mengeluh.
Semua berawal dari kerjakan apa yang kau dapatkan, maksimalkan, dan nikmatilah hasilnya:)
Selasa, 21 April 2015
Jalan Berbeda
Teman. Sekarang aku hanya bisa menatapmu dari jauh. Berharap kamu akan berbalik dan sekedar menyapaku. Bukan, bukan aku yang tidak mau menegurmu, aku hanya tidak ingin mengganggu aktivitasmu. Ya, kamu dengan dunia barumu.
Teman. Ingatkah dulu kenangan yang pernah kita lakukan bersama? Ingatkah kau tentang kita yang berusaha menentang hujan demi mengejar menit? Ingatkah kau tentang aku yang sering mengeluh padamu, teman, aku sendirian..
Dulu, kita sering berbagi cerita. Masalah tak penting pun kita bahas juga. Hanya sekedar pengisi waktu luang. Ya, itu memang cara kita menghabiskan waktu bersama. Hanya antara kau dan aku. Dan juga kenyamanan yang ada diantara kita.
Teman. Apakah jalan kita sekarang sudah berbeda? Apakah tak ada lagi penghubung kita dikala suka? Atau penjaga kita dikala duka? Tak adakah aku lagi dihidupmu?
Kita yang dulu tertawa tanpa henti. Kita yang dulu menangis dalam elegi. Kita yang dulu saling berbagi sepi. Terlalu banyak kita yang dulu, teman. Terlalu banyak kenangan ini.
Teman, dalam mimpi-mimpi senduku, dalam sepinya malamku, aku hanya bisa mengusap fotomu. Mengingat semua momen kita yang telah berlalu. Sesakit inikah rasanya menjadi dua orang yang berbeda? Berada dalam satu ruang yang sama, namun enggan tuk menyapa. Merasa telah berbeda. Hanya kegelisahan kapan perpisahan akan datang, saling membuang nafas jengah, kenapa kita yang sekarang begitu sulit untuk bersua?
Teman. Bolehkah aku sekedar berharap saat ini? Kau akan berbalik dan merangkulku lagi? Kau benar, sekarang aku tidak lagi sendiri. Begitu pula denganmu, bukan? Tapi bolehkah aku bersikap egois? Bolehkah aku meminta sedikit waktumu untuk menemaniku lagi?
Teman, aku rindu padamu. Rindu, teramat rindu.
Seseorang yang hanya mengamatimu dari jauh, yang menanggung rindu. Ia hanya ingin berkata, kembalilah, sahabatku.
Senin, 20 April 2015
Kertas putih yang pudarTertulis seribu kataDan ku ungkap semua yang sedang ku rasaDengarkanlah kata hatikuBahwa ku ingin untuk tetap disini
Tak perlulah aku keliling duniaBiarkan ku disiniTak perlulah aku keliling duniaKarna ku tak mau jauhDarimu
Dunia boleh tertawaMelihatku bahagiaWalau ditempat yang kau anggap tak biasaBiarkanlah aku bernyanyiBerlari berputar menari disini
(Tak perlulah aku keliling dunia)
Tak perlulah aku keliling duniaKarna kau disiniTak perlulah aku keliling duniaKaulah segalanya bagiku
Di Duniaaa.. Aaa.. Aaa.. Aaa.. Aaa..