Aku tidak pernah tau bahwa mencintaimu ternyata sesakit ini.
Engkau yang dulu hanya bayangan untukku, sekarang hanyalah sebuah kamuflase dalam frame kaca yang tak bisa lagi kusentuh.
Engkau yang dulu selalu abai akan kehadiranku, sekarang menjauh perlahan dan memutuskan pergi.
Hujan yang sangat ku nanti pun tak pernah bisa membuatmu berhenti, bagaimana mungkin ku bisa lebih lama membuatmu bertahan tanpa alasan?
Jika dulu alasanmu pergi karena tidak mengenalku, bolehkah ku berharap itu terulang?
Karena ternyata mengenalmu adalah salah satu kesalahan terbesar yang pernah ku lakukan.
Dan mencintaimu dalam diam merupakan salah satu kesalahan lain yang menuntunku untuk lebih terjerumus dalam perasaan yang menyesakkan.
Jika waktu bisa terulang, ku akan memilih untuk tetap menjadi pengamatmu dari kejauhan, setidaknya melihatmu dalam bayangan lebih baik dibanding mengingat senyummu yang tak ku tau kau tujukan untuk siapa.
Maaf jika aku abai, maaf jika aku terlalu berharap pada kenyataan semu yang selalu kucari-cari. Maaf jika rasa cintaku inilah yang membuatmu harus pergi.
Andai dulu aku tau, mencintaimu ternyata sesakit ini.
Jumat, 01 Juli 2016
Andai aku tau
Sabtu, 19 Maret 2016
Catatan sang pengembara
Aku lelah untuk jatuh cinta. Melihat sudah jauh adanya pengembaraan yang ada tanpa ku tau kau sudah purna.
Apa yang salah dalam setiap kebersamaan? Apa ada yang bisa menerka apa yang akan terjadi di kemudian? Kini kutau akhirnya, jika dengan melihatmu, tanpa sengaja ku tumbuhkan sebuah rasa suka. Seperti belati. Tajam, kokoh namun selalu mengiris.
Bukan mauku untuk mengharapkanmu, bukan mauku untuk memilihmu.
Apalah aku dibanding ia yang bertahun2 memilikimu?
Sungguh, tak pernah berkeinginan aku untuk menggapaimu.
Sungguh, tak pernah terbayang olehku saat malam-malam sunyi hanya sosokmu yang terlintas dibenakku.
Aku lelah untuk jatuh cinta. Kau dan aku sama seperti matahari dan bumi yang hanya berjalan satu arah. Ku yang terus berharap sinarmu akan menggapaiku, meski ku tau jika terlalu dekat semua akan membakarku.
Ya, ku yang selalu berharap kau dapat menyinari dan merengkuhku.
Kau tau, sudah sejak lama ku ingin mengutarakan, aku sudah lelah dengan perasaan suka. Ku sudah lelah dengan harapan-harapan kosong yang terus ku ukir demi menenangkan rasa di dalam dada.
Tapi siapalah aku? Hanya seorang hamba yang tak kuasa untuk jatuh cinta. Mengukir perasaan suka dan terus berharap di dalam doa. Hanya saja pada orang yang salah.
Sama seperti dahulu, ku memutuskan pergi sebelum ku terlanjur menyakiti.
Ku memutuskan 'membunuh' kepingan-kepingan harapan agar kau menahanku disini demi menyelamatkan isi hati.
Cukup sudah goresan luka yang ku buat hanya demi mengharap kau mungkin akan berpaling, biarlah. Biarlah kini kutitipkan cerita cintaku pada Sang Pengukir Cerita, maka liat suatu saat nanti.
Ia yang memutuskan kau akan datang padaku, atau aku yang harus pergi dengan cerita baru.
Setidaknya malam ini telah ku sampaikan, aku bahagia pernah menghabiskan waktu bersamamu.
Meski semua cukup singkat, karena harus kubunuh bersamaan dengan perasaanku yang terus tumbuh tanpa ku tau..
Selamat malam.
Rabu, 30 Desember 2015
Apa kabar, masa lalu?
Selamat pagi, masa lalu.
Sudah 100 hari semenjak terakhir aku menanyakan kabarmu. Baik-baik saja kah? Apa kau sudah menemukan penggantiku?
Selamat pagi, masa lalu.
Ingin sekali ku ketik sebuah kalimat basa-basi demi bisa menghubungimu. Namun tak ku sangka semuanya tidak semudah itu, karena kenangan akan 'kita' terus muncul dalam setiap ingatanku.
Kau tau? Rasa rinduku padamu tak bisa disamakan dalam sekedar kalimat basa basi bertajuk "apa kabar".
Karena sejujurnya rasa yang ku miliki terlampau besar, hingga terkadang aku pun takut akan terjatuh lagi dalam hidupmu. Untuk kesekian kalinya.
Selamat pagi masa lalu, hari ini ku temukan sebuah surat tergeletak di meja ku. Bukan, bukan pengirimnya yang membuatku tersentak. Bukan pula asalnya yang membuatku meringis, namun ada satu kalimat yang membuatku termangu. Kau tau apa kalimat itu? Bukan kalimat cinta tentunya, hanya sebaris kalimat singkat, "Jangan lupa bahagia".
Kau tau apa alasanku yang tiba-tiba terdiam? Aku hanya mencoba berpikir dan merangkai penjelasan. Apa aku sudah bahagia selama ini? Apa menghilang dan ketidakpedulianmu masih bisa membuatku bahagia? Apa dulu ketika bersamamu aku sudah bahagia?
Bolehkah ku tanyakan hal ini padamu?
Kau tau,, setiap hari aku selalu berharap, kau akan mengirimi aku pesan, tidak panjang, hanya sekedar memberitau bagaimana keadaanmu. Apakah kau baik saja, apakah hidupmu lancar, apakah kau merindukanku. Ya ya ya, aku tau. Memang harapanku terlalu berlebihan. Hanya saja, ya mungkin perhatian dan kepedulianmu yang sedikit itu bisa memberikan rasa bahagia untukku.
Yap, sedikit lebih baik kan dibanding tidak sama sekali?
Selamat pagi, masa lalu.
Kau tau? Terkadang kita memiliki banyak perbedaan satu sama lain hingga membuat kita sering berdebat,, namun kau tau? Kita juga memiliki beberapa kesamaan yang ternyata dalam hal ini berkonotasi negatif. Kau tau apa itu?
Yap, menunggu.
Sama-sama saling menunggu, tanpa mengirim pesan, tanpa saling mencari, dan hanya diam. Saling menunggu kapan dihubungi. Lucu ya? Tapi memang begitulah kita sedari dulu. Kau tau kan?
Terkadang saling menunggu itu lah yang menciptakan jarak semu di antara kita, yang semakin lama akan membuat kita terperangkap dalam pergulatan batin masing-masing. Yang pada akhirnya, jauh, terpisah kemudian menghilang.
Lewat pesan tadi, aku hanya ingin meyampaikan padamu bahwa sudah cukup untuk kita saling menunggu. Aku ingin kau bahagia, begitu juga aku.
Mungkin, bukan jalan kita untuk bisa bersama, mungkin bukan kesempatan kita untuk bisa kembali. Namun aku ingin kau tau bahwa aku akan selalu mendoakanmu untuk bertemu separuh hidupmu nanti, ya seorang yang mampu membuatmu maju tanpa harus diam tak tentu.
Jadi, sebelum saat itu tiba, izinkan aku untuk bertanya sebuah pertanyaan singkat. Apa kabar, masa lalu? Hidupmu tanpa aku? Jika kau bertanya kembali, maka jawabanku selalu sama. Bahwa aku akan selalu menunggu ntah sampai kapan. Ntah dengan siapa dan ntah bagaimana.
Pesanku cuma satu, untukmu hinga nanti..
Jangan lupa bahagia ya:')
Senin, 03 Agustus 2015
Kangen
Baru beberapa jam ku tapaki jalan meninggalkan rumah..
Jauh, jauh dari kenyamanan..
Jauh, jauh dari kehangatan..
Jauh, jauh dari keluarga..
Lalu, kudapati kini diriku tengah meringkuk di pojok kamar..
Menghitung hari demi hari, beserta bulan. Menunggu, kapan waktunya aku akan pulang?
Kembali dalam rengkuhan keluarga?
Aku sepi, sepi dalam keheningan..
Aku hening, hening dalam keramaian..
Aku bimbang, penuh dengan pengharapan..
Lantas, apa gunanya aku berpura-pura bahagia saat aku memilih kembali?
Bukankah banyak hati yang tersakiti?
Kenapa dulu aku memilih untuk menjauh?
Rindu, sungguh rasanya rindu..
Aku hanya bisa menunggu waktu, kapan lagi saatnya..
Meski saat itu tiba, aku selalu merasakan terbangun dikala lelap, dan terisak menangisi jauhnya jarak..
Rindu, ibu aku teramat rindu..
Doakan aku disini, doakan pengorbananku disini untuk menjadi bekalku nanti..
Aku rapuh ibu, aku ingin berada dalam rengkuhanmu..
Tunggu aku, 6 bulan bukan waktu yang lama bukan?
Untukmu.
Senin, 20 Juli 2015
Kosong
Aku tidak tau penyakit hati apa yang ada dalam diri ini.
Aku sulit, sulit rasanya untuk memaafkan.
Aku tidak bisa bersikap lemah lembut dengan orang lain.
Entahlah, terkadang aku berpikir, aku orang yang sangat menyebalkan.
Aku hanya merasa kosong. Hati ini rasanya sudah penuh rasa luka.
Tercabik-cabik.
Hingga tidak tau lagi rasanya memaafkan..
Sudah terlampau perihkah sakit yang aku terima? Sudah terlampau tak termaafkankah perilaku yang aku rasakan.
Aku tidak pernah tau..
Sampai kapanpun aku tidak pernah mengerti perasaan ini.
Perasaan sakit, sedih, marah, emosi atau sesuatu yang membuatku tersakiti.
Yang aku tau, saat ini aku merasa sepi.
Kosong dan ntahlah.
Hanya aku yang mengerti.
Selasa, 14 Juli 2015
Terlalu Berbeda
Hai kamu..
Yang saat terbangun di pagi hari, lantas beranjak ke kamar mandi. Menuai aktivitas di pagi hari. Tanpa beban. Tanpa hambatan.
Hei kamu..
Yang saat berkata kamu lapar, maka sudah tersaji aneka hidangan di meja makan. Lantas kau tinggal menyisingkan lengan, dan mulai mencecap masakan.
Hei kamu..
Yang saat ingin berpergian, sudah ada kendaraan yang terparkir rapi di halaman. Yang kau lakukan hanya masuk. Duduk rapi memanggil pelayan. Yap, orang yang bersedia mengantarmu hingga tujuan.
Hei kamu..
Tidakkah kau berpikir? Hidup kita terlalu berbeda. Kau sibuk dengan aktivitas mewahmu sedangkan aku harus berpeluh bermandi keringat, bekerja keras untuk menyongsong hidup. Tanpa ada kemewahan, atau janji manis di masa depan.
Hei kamu..
Lantas masih pantaskah kau meremehkan segala hal yang aku punya? Di saat aku memperoleh semua dengan kerja keras yang ku lakukan, kau hanya sekedar menggedikkan bahu. Dan voila! Semua tersedia di depan mata.
Hidup terkadang tidak sesederhana yang kau pikirkan. Hidup terkadang tidak sedamai yang kau bayangkan. Cobalah untuk 'melihat' bahwa kita terlalu berbeda. Jangan samakan aku dengan kehidupanmu. Tolong hargailah jika kau masih belum bisa menghapus bebanku.
Hargailah dengan tidak meremehkan segala hal yang aku miliki.
Hargailah dengan selalu memberi motivasi.
Hargailah bahwa kehidupan tidak sebercanda itu.
Bukankah dulu kau yang paling 'tau' hidupku?
Minggu, 12 Juli 2015
Selamat tinggal masa lalu
Selamat tinggal masa lalu.
Pagi ini datang lagi. Bersamaan dengan terbitnya mentari di ufuk timur. Memancarkan sinar temaram. Pertanda kehidupan mulai berjalan.
Pagi ini sama seperti pagi yang lainnya. Aku sendiri. Masih dalam sepi. Namun bedanya, aku sudah lelah, menangis tanpa air mata.
Dulu aku selalu bahagia menyambut fajar. Karena ku tau, hari akan berganti. Harapan akan terukir lagi.
Dulu aku selalu bahagia merasakan embun pagi. Meski dingin dan menusuk tulang. Namun terasa sejuk di dalam hati.
Tapi sekarang telah berlalu, sepelemparan batu. Aku yang sekarang sudah terlalu lelah untuk terus tertawa. Aku yang sekarang sudah terlalu rapuh untuk menyembunyikan luka.
Aku yang sekarang, sudah tak mampu menahan rasa... rindu. Kepadamu.
Boleh kah kuucapkan kata selamat tinggal? Boleh kah akhirnya aku menyerah saja? Bukankah dulu kau bilang semua bukan tentang "kita". Ini hanya tentang aku dan mimpi semu ku.
Bukankah, dari awal kau sudah menyerah? Maaf, aku ulangi. Bukankah dari awal kau sudah tak ingin berjuang?
Tiba-tiba rasa dingin ini menyergapku. Seperti ada angin yang berhembus kuat di sekelilingku. Aku mulai takut. Tak ada lagi kah yang mampu memelukku? Sudah terlalu jauh kah jarak antara dua tangan ini? Hingga saling merengkuh saja sudah semakin sulit?
Selamat tinggal masa lalu.
Kalimat yang begitu mudah untuk ku ucapkan. Namun tak bisa juga aku wujudkan. Ini bukan tentang aku dan kau. Ini hanya tentang aku, yang tak mampu menepis bayangmu.
Tapi pagi ini, aku sudah mulai belajar. Mentari akan selalu terbit di ufuk timur. Begitu pula embun pagi yang menetes membawa perasaan sejuk. Sama seperti kehadiranmu yang tak bisa ku lupakan atau tepiskan. Kau akan selalu menjadi bagian masa laluku.
Hanya saja, pagi ini aku ingin mengucapkan selamat tinggal.
Biarkan aku jalani kembali kehidupan, tanpa ada bayang-bayangmu dalam setiap sudut jalan.
Kau benar, ini semua hanya tentang 'membunuh' mimpi semuku.