Aku lelah untuk jatuh cinta. Melihat sudah jauh adanya pengembaraan yang ada tanpa ku tau kau sudah purna.
Apa yang salah dalam setiap kebersamaan? Apa ada yang bisa menerka apa yang akan terjadi di kemudian? Kini kutau akhirnya, jika dengan melihatmu, tanpa sengaja ku tumbuhkan sebuah rasa suka. Seperti belati. Tajam, kokoh namun selalu mengiris.
Bukan mauku untuk mengharapkanmu, bukan mauku untuk memilihmu.
Apalah aku dibanding ia yang bertahun2 memilikimu?
Sungguh, tak pernah berkeinginan aku untuk menggapaimu.
Sungguh, tak pernah terbayang olehku saat malam-malam sunyi hanya sosokmu yang terlintas dibenakku.
Aku lelah untuk jatuh cinta. Kau dan aku sama seperti matahari dan bumi yang hanya berjalan satu arah. Ku yang terus berharap sinarmu akan menggapaiku, meski ku tau jika terlalu dekat semua akan membakarku.
Ya, ku yang selalu berharap kau dapat menyinari dan merengkuhku.
Kau tau, sudah sejak lama ku ingin mengutarakan, aku sudah lelah dengan perasaan suka. Ku sudah lelah dengan harapan-harapan kosong yang terus ku ukir demi menenangkan rasa di dalam dada.
Tapi siapalah aku? Hanya seorang hamba yang tak kuasa untuk jatuh cinta. Mengukir perasaan suka dan terus berharap di dalam doa. Hanya saja pada orang yang salah.
Sama seperti dahulu, ku memutuskan pergi sebelum ku terlanjur menyakiti.
Ku memutuskan 'membunuh' kepingan-kepingan harapan agar kau menahanku disini demi menyelamatkan isi hati.
Cukup sudah goresan luka yang ku buat hanya demi mengharap kau mungkin akan berpaling, biarlah. Biarlah kini kutitipkan cerita cintaku pada Sang Pengukir Cerita, maka liat suatu saat nanti.
Ia yang memutuskan kau akan datang padaku, atau aku yang harus pergi dengan cerita baru.
Setidaknya malam ini telah ku sampaikan, aku bahagia pernah menghabiskan waktu bersamamu.
Meski semua cukup singkat, karena harus kubunuh bersamaan dengan perasaanku yang terus tumbuh tanpa ku tau..
Selamat malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar